Cara Import Barang dari China atau Negara Lain

      1 Komentar pada Cara Import Barang dari China atau Negara Lain
Tombol berbagi:

Harga murah produk-produk asal China memang mengiurkan. Akan tetapi, jangan salah dalam menentukan cara import barang dari China. Bayangkan jika anda melakukan import barang dalam jumlah yang lumayan banyak. Salah dalam melakukan import barang dari luar negri bisa berujung fatal dan potensi kerugian bisa sangat banyak.

Kenapa judul artikel ini menekankan cara import barang dari China. Kenapa harus China? Seperti yang dikatakan tadi, rata-rata peritel di Indonesia memasok barang dagangannya dari China. Krena memang harganya jauh lebih murah dibanding harga prabrik barang yang sama di Indonesia. Dengan demikian, para pebisnis ritel, jika melihat harga yang super murah teresbut pasti langsung memikirkan potensi untung yang didapatkan jika menjual barang tersebut di Indonesia.

Banyak sekali situs ecommerce asal China menawarkan harga barang yang jauh lebih murah. Alhasil, karena situs tersebut bisa dijangkau oleh siapa saja, khususnya orang di Indonesia yang menggunakan internet, banyak bermunculan peritel-peritel baru yang memasok barang dagangan dari China. Sebenarnya panduan ini bukan hanya untuk import barang dari China. Bisa juga diterapkan untuk import barang dari negara lain selain China.

Ada 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Ingin Mengimport Barang dari Luar Negri

Ada tujuh hal penting untuk diketahui ketika hendak mengimpor barang dari luar negeri. Cara mengimpor barang sangat berbeda dengan membeli barang dari dalam negeri. Ada prosedur dan aturan tertentu untuk barang yang diimport atau barang yang masuk ke Indonesia. Sebenarnya bukan hanya Indonesia saja yang punya teraturan dan prosedur import barang. Negara lain juga demikian. Tapi beda negara mungkin beda caranya.

Semua barang yang masuk ke Indonesia yang berasal dari luar negri adalah barang import. Namun yang sering menjadi masalah dalam mengimport barang dari luar negri adalah jenis barang dan jumlah yang dimasukkan ke dalam negri.

Selain barang jadi, perusahaan juga sering melakukan impor bahan baku untuk kepentingan produksi. Artinya, kegiatan impor boleh dilakukan oleh siapa saja, baik perorangan ataupun perusahaan. Akan tetapi, sangat disarankan untuk mengikuti prosedur dan tata cara import barang yang berlaku di Indonesia. Berikut ini adalah tujuh poin penting untuk diketahui oleh setiap calon pengimpor barang.

1. Ketahuilah Jenis Produk atau Barang yang akan Diimport dan Pastikan Negara Asalnya

Cari tahu kodifikasi jenis barang yang hendak diimport berdasarkan Buku Tarif Kepabeanan indonesia (BTKI) yang terbaru. Kodifikasi ini juga disebut dengan HS Code (Kode Harmonized System). Untuk menentukan HS kode barang tersebut, lakukanlah ketiga hal berikut;

  • Hitung tarif bea masuk dengan menjumlah PPH dan PPN jenis barang import tersebut
  • Jauhi semua hal yang berpotensi menjadi masalah pada saat pengambilan barang import di kantor Bea dan Cukai
  • Segala urusan perijinan import barang seharusnya diurus sebelum import barang dilakukan

Sering peritel yang membeli barang dari China menyesal pada saat serah terima parang di kantor Bea dan Cukai. Karena, bisa jadi harga barang import dari China sangat murah, sementara biaya PPH dan PPN untuk jenis barang yang diimport jauh lebih mahal dari harga barangnya sendiri.

Selain masalah biaya, sering juga pengimport barang tidak diijinkan untuk mengeluarkan barang dari kantor Bea dan Cukai dikarenakan pembeli barang yang bersangkutan belum memiliki ijin import. Untuk saat ini, berapapun jumlah dan harga barang import dikenakan bea masuk. Atau, ada jenis barang tertentu yang tidak boleh sama sekali masuk ke Indonesia dan ada juga yang perlu disertai dokumen khusus dari negara asal. Untuk jenis barang yang boleh diimport bisa di cek di insw.go.id.

Nah, agar boleh mengimport barang dalam jumlah yang banyak, segeralah urus perijinan import terlebih dahulu dan ketahuilah apakah barang yang ingin diimport boleh masuk ke Indonesia. Dengan demikian, barulah sah dianggap sebagai importir. Tapi yang tidak mau repot urus ijin import jangan berkecil hati dulu. Baca terus artikel ini sampai habis.

2. Urus Izin Import

Untuk mengurus izin import barang dari luar negri, perlu mengetahui bahwa ada dua jenis perizinan import. Yaitu perizinan pokok dan perijinan khusus.

Perijinan import pokok mencakup;

  • Keabsahan perusahaan, contohnya PT atau CV.
  • Angka Pengenal Impor (API) contohnya API-P atau API-U
  • Nomor Induk Kepabeanan (NIK)

Sementara, perijinan khusus yang berhubungan dengan impor jenis barang khusus. Misalnya, buah-buahan. Oleh karena itu, pihak pengimpor mesti mempunyai izin IP Hortikultura atau disebut juga dengan Importir Produsen. Ada juga IT Hortikultura atau disebut juga dengan Importir Terdaftar.

3. Tentukan Sistem Transaksi yang Berlaku

Yang satu ini tidak kalah pentingnya. Dalam menentukan cara import barang dari China atau negara lain, pastikan dulu pihak penjual atau supplier yang di luar negeri tersebut mengenai pokok pembayaran yang mersti anda lakukan.

Anda mungkin sudah pernah mendengar istilah FOB (Free on Board), CIF (Cost Insurance and Freight), FAS (Free Alongside Ship), DDP (Delivered Duty Paid), CRF (Cost of Freight) atau istilah-istilah lain. Dalam aktivitas ekspor impor, semua is tilah tersebut perlu kamu ketahui artinya. Yang mana, setiap istilah tersebut merupakan penentuan sampai dimana keajiban dan tanggung jawab penjual barang berakhir.

  • Jika si penjual atau supplier menggunakan sistem FOB, artinya, semua tarif pengiriman barang import, O/F (Ocean Freight), total biaya pembelian produk/barang/atau bahan baku berikut asuransinya akan dibayar tuntas oleh importir begitu kapal kargo tiba di pelabuhan bongkar negara importir.
  • Jika menggunakan sistem transaksi CFR, artinya pemasok/penjual/supplier melakukan penyerahan barang begitu barang melewati garis pagar kapal kargo pada pelabuhan pengapalan (di negara asal pengekspor) akan tetapi sudah positif mendapat izin ekspor. Sedangkan semua ongkos pengangkutan hingga ke pelabuhan tujuan masih tanggung jawab pengekspor atau supplier.
  • Sedangkan CIF merupakan sistem transaksi pembelian barang import yang mana total biaya pembelian barang, ongkos pengantaran barang dan asuransinya dan dibayarkan sebelum berangkatnya kapal kargo dari pelabuhan muat.
  • Kalu menggunakan sistem transaksi DDP, penyerahan barang yang dilakukan oleh pengekspor memberikan barang di tempat yang sudah ditentukan oleh importir yang sudah di lokasi wilayah kewenangan si importir. Cara transaksi import ini pengimpor tetap menjadi pihak yang mengurus segara urusan formalitas kepabeanan. Inilah yang dinamakan layanan jasa import door-to-door service.
  • Jenis transaksi FAS adalah penyerahan barang yang dilakukan oleh eksportir yang wajib menanggung semua pengeluaran biaya dan resiko hingga sampai pelabuhan muat dengan syarat sudah memiliki izin ekspor.

4. Menentukan Logistik Barang Import (Freight Forwarder)

Untuk import barang skala besar, biasanya tugas menentukan ekspedisi barang import nya adalah si importir sendiri. Biasanya jumlah barang import skala besar lebih cocok melalui jalur laut, yaitu kapal kargo. Namun, untuk import barang dalam jumlah yang sedikit dan beratnya ringan, disarankan melalui udara (Air Freight) agar cepat sampai ketujuan. Contohnya import barang dari China melalui logistik udara biasanya sampai ke tujuan dalam waktu 6 atau 7 hari. Sedangkan import barang dari China melalui kargo bisa memakan waktu 2 sampai 4 minggu.

Sebelum barang siap diangkut menuju ke tempat importir, perlu menyelesaikan urusan membayar tarif bea masuk seperti PPN dan PPH. Kemudian, barang boleh diangkut dan dibawa ke tempat tujuan importir.

Untuk sebagian orang mungkin merasa repot jika harus mengurus ijin import terlebih dahulu. Mungkin juga karena barangnya hanya sedikit atau tidak sering-sering import barang.  Jika demikian juga dengan anda, bisa memanfaatkan jasa import barang pihak ketiga. Dalam hal ini, segala urusan import mulai dari pengangkutan barang, ekspedisi barang, pembayaran bea masuk, hingga penyeraha ke tempat tujuan dialihkan ke jasa import barang tersebut. Atau, ada juga jasa door-to-door yang hanya menawarkan jasa tumpang ijin import. Jadi, saat ini import barang bukan jadi masalah yang sulit bagi perorangan atau peritel skala kecil.

5. Perlukah Asuransi Barang?

Dalam import barang dari China atau dari negara lain, mengurus asuransi barang yang akan diimport sangat disarankan. Baik pihak importir dan eksportir dalam bisnis harus tau tanggung jawab dan kewajiban masing-masing. Oleh karena itu, dalam hal menentukan asuransi barang dalam import barang dari luar negri, perlu menentukan apakah harus menggunakan jenis transaksi tertentu yang mencakup biaya asiransi, atau harus membayar paket asuransi barang atau asuransi kargo secara terpisah dari pihak lain.

Ada banyak hal yang menyebabkan barang yang kita import dari luar negri rusak atau hilang lenyap sebelum sampai ke tempat tujuan. Contohnya, ledakan, kebakaran, tenggelam, kecelakaan, atau rusak sebelum tiba ke tangan kita. Oleh karena itu, untuk memastikan asuransi yang berlaku, periksalah kesepakatan yang dibuat berdasrkan persetujuan pihak importir atau eksportir. Perihal semacam ini biasanya sudah termasuk pada salinan kontrak perdagangan atau Letter of Credit.

Demikianlah sobat Wongunik, semoga panduan cara import barang dari China atau dari negara-negara lain ini bisa membantu anda dalam mengimport barang dari luar negri.

1 comment on “Cara Import Barang dari China atau Negara Lain

  1. Pingback: 10 Bentuk Kamera Tersembunyi Paling Unik untuk Pengawasan Rumah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *